Total Tayangan Laman

Jumat, 22 April 2011

Pemetaan Materi PAI

BAB I
PENDAHULUAN
Materi Pendidikan Agama Islam di Madrasah Ibtidaiyah menjadi salah salah satu ciri khas dari Madrasah Ibtidaiyah. Pendidikan PAI yang dimaksudkan didalam bahan ajar ini adalah Al-Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, Fiqh, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan Bahasa Arab.
Materi pembelajaran di madrasah pada umumnya merupakan hasil dari komporomi dan perpaduan pendidikan pesantren dan sekolah umum. Materi-materi umum diajarkan seratus persen dan materi agama juga diajarkan secara maskimal. Sehingga madrasah dianggap sebagai sekolah umum plus. Plus disini simaksudkan dengan maksimalnya pembelajaran agama, khususnya materi-materi pokok dalam keagaamaan.
Berhubung materi pembelajaran PAI menjadi materi khas dalam pembelajaran di MI, maka seyogiyanya pembejaran agama ini di kelola dan dilaksanakan secara maksimal, melalui persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi yang baik pula.
Persiapan pembelajaran yang dimaksuk menyangkut, pemilihan materi, pemetaan materi, pemilihan metode maupun model, persiapan pembelajaran berupa penyusunan RPP, pemilihan alat atau media pembelajaran dan menentukan evaluasi pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang diajarkan.
Dalam rangka mempersiapkan pembelajaran yang baik itu, bahan ajar ini sengaja disusun untuk membantu para tenaga pengajar khususnya guru-guru PAI di MI untuk mempersiapkan pengajaran yang maksimal dalam pembelajaran PAI, sehingga tujuan pembelajaran PAI dapat dicapai dengan baik.





BAB II
KONSEP PEMBELAJARAN DAN PEMETAAN MATERI PAI MADRASAH IBTIDAIYAH
A. Hakikat Pembelajaran PAI
1. Membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia.
Salah satu tujuan dari pendidikan utama pendidikan Nasional adalah membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, hal ini dapat terwujud apabila pembelajaran dilaksanakan dengan menyentuh potensi diri manusia berupa koginitif, apektif dan psikomotor. Aspek kognitif menjadi jendela masuknya ilmu pengetahuan kepada diri seseorang, setelah ilmu pengetahuan tersebut di ketahui, kemudian difahami, di persepsi, dihayati dan diamalkan. Rangkaian proses terbentuknya pengetahuan siswa tentang ketuhanan harus dikawal sejak dini melalui proses pembelajaran dan pendidikan yang baik agar pengetahuan tersebut memberikan sumbangan positif dalam perkembangan kejiwaan seorang anak didik.
Pengawalan pendidikan tersebut dapat dilakukan dengan baik apabila, pendidik melakukan tugasnya dengan ikhlas didukung oleh suasana dan lingkungan pendidikan yang baik.

2. Akhlak mulia mencakup persoalan etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama
Pemahaman seseorang terhadap agama dapat terwujud lewat prilaku dan akhlakul karimah yang diperaktekkan sehari-hari. Keberagamaan seseorang diejawantahkan dalam hubungan seseorang dengan Tuhannya, masyarakat disekitarnya dan lingkungan alam dimana ia berada. Seseorang dianggap baik, bukan pengakuan pribadi, melainkan pengakuan dari orang-orang yang ada disekelilingnya. Oleh karena itu etika, budi pekerti yang diamalkan seseorang merupakan perwujudan dari pendidikan agama yang dia peroleh baik dirumah, sekolah maupun lingkungan.

3. Meningkatkan potensi spiritual
Manusia diberikan Tuhan potensi kecerdasan intelektual, emosional dan spritual. Potensi spritual ini di yakini sebagai potensi seseorang merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Seseorang merasa bahwa dirinya diatur, dipelihara, dilindungi dan kasihi oleh Tuhan. Melalui potensi spritual pula seseorang dapat merasakan bahwa gerak-geriknya diawasi oleh Allah SWT dan harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT.

4. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan
Potensi spritual tidak otomatis meningkat, hal ini membutuhkan pengasahan lewat penanaman nilai-nilai agama, pelaksanaan ta’lim dan dakwah, pelaksanaan ritual keagamaan, kajian-kajian keagaman dan diskusi seputar agama dan permasalahan keagamaan.

5. Peningkatan potensi spritual bertujuan untuk mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
Pada hakikatnya, ajaran agama menuntun manusia agar hidup secara bermartabat sebagai makhluk Allah SWT. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya bukan saja dalam bentuk fisik, melainkan juga dalam prilaku dan kebudayaan. Manusia adalah makhluk Allah yang berbudaya yang memegang nilai-nilai moral dan nilai-nilai ketuhanan sebagai hasil dari pendidikan dan penyerapan nilai-nilai yang ada di lingkungannya.
Agama merupakan satu-satunya penuntun kehidupan manusia agar menjadi makhluk yang beradab dan bermartabat.

B. Tujuan Pembelajaran PAI
1. Al-Qur'an-Hadis
Mata pelajaran Al-Qur'an-Hadis di Madrasah Ibtidaiyah adalah salah satu mata pelajaran PAI yang menekankan pada kemampuan membaca dan menulis al-Qur'an dan hadis dengan benar, serta hafalan terhadap surat-surat pendek dalam al-Qur'an, pengenalan arti atau makna secara sederhana dari surat-surat pendek tersebut dan hadis-hadis tentang akhlak terpuji untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladanan dan pembiasaan. Hal ini sejalan dengan misi pendidikan dasar adalah untuk: (1) pengembangan potensi dan kapasitas belajar peserta didik, yang men¬yangkut: rasa ingin tahu, percaya diri, keterampilan berkomunikasi dan kesadaran diri; (2) pengembangan kemampuan baca-tulis-hitung dan bernalar, keterampilan hidup, dasar-dasar keimanan dan ketakwaan terhadan Tuhan YME; serta (3) fondasi bagi pendidikan berikutnya. Di samping itu, juga mempertimbangkan perkembangan psikologis anak, bahwa tahap perkembangan intelektual anak usia 6-11 tahun adalah operasional konkret (Piaget). Peserta didik pada jenjang pendidikan dasar juga merupakan masa social imitation (usia 6 - 9 tahun) atau masa mencontoh, sehingga diperlukan figur yang dapat memberi contoh dan teladan yang baik dari orang-orang sekitarnya (keluarga, guru, dan teman-teman sepermainan), usia 9 – 12 tahun sebagai masa second star of individualisation atau masa individualisasi, dan usia 12-15 tahun merupakan masa social adjustment atau penyesuaian diri secara sosial. Secara substansial mata pelajaran Al-Qur'an-Hadis memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mencintai kitab sucinya, mempelajari dan mempraktikkan ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur'an-hadis sebagai sumber utama ajaran Islam dan sekaligus menjadi pegangan dan pedoman hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Mata pelajaran Al-Qur'an-Hadis di Madrasah Ibtidaiyah bertujuan untuk:
a. Memberikan kemampuan dasar kepada peserta didik dalam membaca, menulis, membiasakan, dan menggemari membaca al-Qur'an dan hadis;
b. Memberikan pengertian, pemahaman, penghayatan isi kandungan ayat-ayat al-Qur’an-hadis melalui keteladanan dan pembiasaan;
c. Membina dan membimbing perilaku peserta didik dengan berpedoman pada isi kandungan ayat al-Qur'an dan hadis.

2. Fikih
Mata pelajaran Fikih di Madrasah Ibtidaiyah merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang mempelajari tentang fikih ibadah, terutama menyangkut pengenalan dan pemahaman tentang cara-cara pelaksanaan rukun Islam dan pembiasaannya dalam kehidupan sehari-hari, serta fikih muamalah yang menyangkut pengenalan dan pemahaman sederhana mengenai ketentuan tentang makanan dan minuman yang halal dan haram, khitan, kurban, serta tata cara pelaksanaan jual beli dan pinjam meminjam. Secara substansial mata pelajaran Fikih memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan dan menerapkan hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari sebagai perwujudan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan diri manusia itu sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya ataupun lingkungannya.
Mata pelajaran Fikih di Madrasah Ibtidaiyah bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat:
a. Mengetahui dan memahami cara-cara pelaksanaan hukum Islam baik yang menyangkut aspek ibadah maupun muamalah untuk dijadikan pedoman hidup dalam kehidupan pribadi dan sosial.
b. Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dan baik, sebagai perwujudan dari ketaatan dalam menjalankan ajaran agama Islam baik dalam hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan diri manusia itu sendiri, sesama manusia, dan makhluk lainnya maupun hubungan dengan lingkungannya.

3. Akidah-Akhlak
Akidah-Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang mempelajari tentang rukun iman yang dikaitkan dengan pengenalan dan penghayatan terhadap al-asma' al-husna, serta penciptaan suasana keteladanan dan pembiasaan dalam mengamalkan akhlak terpuji dan adab Islami melalui pemberian contoh-contoh perilaku dan cara mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara substansial mata pelajaran Akidah-Akhlak memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan al-akhlakul karimah dan adab Islami dalam kehidupan sehari-hari sebagai manifestasi dari keimanannya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta Qada dan Qadar.
Al-akhlak al-karimah ini sangat penting untuk dipraktikkan dan dibiasakan sejak dini oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam rangka mengantisipasi dampak negatif era globalisasi dan krisis multidimensional yang melanda bangsa dan Negara Indonesia.
Mata Pelajaran Akidah-Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat:
a. Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT;
b. Mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai akidah Islam.

4. Sejarah Kebudayaan Islam
Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang menelaah tentang asal-usul, perkembangan, peranan kebudayaan/peradaban Islam dan para tokoh yang berprestasi dalam sejarah Islam pada masa lampau, mulai dari sejarah masyarakat Arab pra-Islam, sejarah kelahiran dan kerasulan Nabi Muhammad SAW, sampai dengan masa Khulafaurrasyidin. Secara substansial, mata pelajaran Sejarah Kebudayan Islam memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati sejarah kebudayaan Islam, yang mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak, dan kepribadian peserta didik.
Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Ibtidaiyah bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan-kemampuan sebagai berikut:
a. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya mempelajari landasan ajaran, nilai-nilai dan norma-norma Islam yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW dalam rangka mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.
b. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan
c. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.
d. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah Islam sebagai bukti peradaban umat Islam di masa lampau.
e. Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni, dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.
5. Bahasa Arab
Mata pelajaran Bahasa Arab merupakan suatu mata pelajaran yang diarahkan untuk mendorong, membimbing, mengembangkan, dan membina kemampuan serta menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa Arab baik reseptif maupun produktif. Kemampuan reseptif yaitu kemampuan untuk memahami pembicaraan orang lain dan memahami bacaan. Kemampuan produktif yaitu kemampuan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi baik secara lisan maupun tulis. Kemampuan berbahasa Arab serta sikap positif terhadap bahasa Arab tersebut sangat penting dalam membantu memahami sumber ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan hadis, serta kitab-kitab berbahasa Arab yang berkenaan dengan Islam bagi peserta didik.
Untuk itu, bahasa Arab di madrasah dipersiapkan untuk pencapaian kompetensi dasar berbahasa, yang mencakup empat keterampilan berbahasa yang diajarkan secara integral, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Meskipun begitu, pada tingkat pendidikan dasar (elementary) dititikberatkan pada kecakapan menyimak dan berbicara sebagai landasan berbahasa. Pada tingkat pendidikan menengah (intermediate), keempat kecakapan berbahasa diajarkan secara seimbang. Adapun pada tingkat pendidikan lanjut (advanced) dikonsentrasikan pada kecakapan membaca dan menulis, sehingga peserta didik diharapkan mampu mengakses berbagai referensi berbahasa Arab.

Mata pelajaran Bahasa Arab memiliki tujuan sebagai berikut:
a. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Arab, baik lisan maupun tulis, yang mencakup empat kecakapan berbahasa, yakni menyimak (istima’), berbicara (kalam), membaca (qira’ah), dan menulis (kitabah).
b. Menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya bahasa Arab sebagai salah satu bahasa asing untuk menjadi alat utama belajar, khususnya dalam mengkaji sumber-sumber ajaran Islam.
c. Mengembangkan pemahaman tentang saling keterkaitan antara bahasa dan budaya serta memperluas cakrawala budaya. Dengan demikian, peserta didik diharapkan memiliki wawasan lintas budaya dan melibatkan diri dalam keragaman budaya.

C. Ruang Lingkup Pembelajaran PAI MI
1. Al-Qur'an-Hadis
Ruang lingkup mata pelajaran Al-Qur'an-Hadis di Madrasah Ibtidaiyah meliputi:
a. Pengetahuan dasar membaca dan menulis al-Qur'an yang benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.
b. Hafalan surat-surat pendek dalam al-Qur'an dan pemahaman sederhana tentang arti dan makna kandungannya serta pengamalannya melalui keteladanan dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
c. Pemahaman dan pengamalan melalui keteladanan dan pembiasaan mengenai hadis-hadis yang berkaitan dengan kebersihan, niat, menghormati orang tua, persaudaraan, silaturahmi, takwa, menyayangi anak yatim, salat berjamaah, ciri-ciri orang munafik, dan amal salih.
2. Fikih
Ruang lingkup mata pelajaran Fikih di Madrasah Ibtidaiyah meliputi:
a. Fikih ibadah, yang menyangkut: pengenalan dan pemahaman tentang cara pelaksanaan rukun Islam yang benar dan baik, seperti: tata cara taharah, salat, puasa, zakat, dan ibadah haji.
b. Fikih muamalah, yang menyangkut: pengenalan dan pemahaman mengenai ketentuan tentang makanan dan minuman yang halal dan haram, khitan, kurban, serta tata cara pelaksanaan jual beli dan pinjam meminjam.

3. Akidah-Akhlak
Mata pelajaran Akidah-Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah berisi pelajaran yang dapat mengarahkan kepada pencapaian kemampuan dasar peserta didik untuk dapat memahami rukun iman dengan sederhana serta pengamalan dan pembiasaan berakhlak Islami secara sederhana pula, untuk dapat dijadikan perilaku dalam kehidupan sehari-hari serta sebagai bekal untuk jenjang pendidikan berikutnya.
Ruang lingkup mata pelajaran Akidah-Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah meliputi:
a. Aspek akidah (keimanan) meliputi:.
1) Kalimat thayyibah sebagai materi pembiasaan, meliputi: Laa ilaaha illallaah, basmalah, alhamdulillaah, subhanallaah, Allaahu Akbar, ta’awwudz, maasya Allah, assalaamu’alaikum, salawat, tarji’, laa haula walaa quwwata illaa billah, dan istighfaar.
2) Al-asma’ al-husna sebagai materi pembiasaan, meliputi: al-Ahad, al-Khaliq, ar-Rahmaan, ar-Rahiim, as- Samai’, ar-Razzaaq, al-Mughnii, al-Hamiid, asy-Syakuur, al-Qudduus, ash-Shamad, al-Muhaimin, al-‘Azhiim, al- Kariim, al-Kabiir, al-Malik, al-Baathin, al-Walii, al-Mujiib, al-Wahhiab, al-’Aliim, azh-Zhaahir, ar-Rasyiid, al-Haadi, as-Salaam, al-Mu’min, al-Latiif, al-Baaqi, al-Bashiir, al-Muhyi, al-Mumiit, al-Qawii, al-Hakiim, al-Jabbaar, al-Mushawwir, al-Qadiir, al-Ghafuur, al-Afuww, ash-Shabuur, dan al-Haliim.
3) Iman kepada Allah dengan pembuktian sederhana melalui kalimat thayyibah, al-asma’ al-husna dan pengenalan terhadap salat lima waktu sebagai manifestasi iman kepada Allah.
4) Meyakini rukun iman (iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul dan Hari akhir serta Qada dan Qadar Allah)

b. Aspek akhlak meliputi:
1) Pembiasaan akhlak karimah (mahmudah) secara berurutan disajikan pada tiap semester dan jenjang kelas, yaitu: disiplin, hidup bersih, ramah, sopan-santun, syukur nikmat, hidup sederhana, rendah hati, jujur, rajin, percaya diri, kasih sayang, taat, rukun, tolong-menolong, hormat dan patuh, sidik, amanah, tablig, fathanah, tanggung jawab, adil, bijaksana, teguh pendirian, dermawan, optimis, qana’ah, dan tawakal.
2) Mengindari akhlak tercela (madzmumah) secara berurutan disajikan pada tiap semester dan jenjang kelas, yaitu: hidup kotor, berbicara jorok/kasar, bohong, sombong, malas, durhaka, khianat, iri, dengki, membangkang, munafik, hasud, kikir, serakah, pesimis, putus asa, marah, fasik, dan murtad.

c. Aspek adab Islami, meliputi:
1) Adab terhadap diri sendiri, yaitu: adab mandi, tidur, buang air besar/kecil, berbicara, meludah, berpakaian, makan, minum, bersin, belajar, dan bermain.
2) Adab terhadap Allah, yaitu: adab di masjid, mengaji, dan beribadah.
3) Adab kepada sesama, yaitu: kepada orang tua, saudara, guru, teman, dan tetangga
4) Adab terhadap lingkungan, yaitu: kepada binatang dan tumbuhan, di tempat umum, dan di jalan.

d. Aspek kisah teladan, meliputi: Kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhan, Nabi Sulaiman dengan tentara semut, masa kecil Nabi Muhammad SAW, masa remaja Nabi Muhammad SAW, Nabi Ismail, Kan’an, kelicikan saudara-saudara Nabi Yusuf AS, Tsa’labah, Masithah, Ulul Azmi, Abu Lahab, Qarun, Nabi Sulaiman dan umatnya, Ashabul Kahfi, Nabi Yunus dan Nabi Ayub. Materi kisah-kisah teladan ini disajikan sebagai penguat terhadap isi materi, yaitu akidah dan akhlak, sehingga tidak ditampilkan dalam Standar Kompetensi, tetapi ditampilkan dalam kompetensi dasar dan indikator.

4. Sejarah Kebudayaan Islam
Ruang lingkup Sejarah Kebudayan Islam di Madrasah Ibtidaiyah meliputi :
a. Sejarah masyarakat Arab pra-Islam, sejarah kelahiran dan kerasulan Nabi Muhammad SAW.
b. Dakwah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, yang meliputi kegigihan dan ketabahannya dalam berdakwah, kepribadian Nabi Muhammad SAW, hijrah Nabi Muhammad SAW ke Thaif, peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
c. Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ke Yatsrib, keperwiraan Nabi Muhammad SAW, peristiwa Fathu Makkah, dan peristiwa akhir hayat Rasulullah SAW.
d. Peristiwa-peristiwa pada masa khulafaurrasyidin.
e. Sejarah perjuangan tokoh agama Islam di daerah masing-masing.

5. Bahasa Arab
Ruang lingkup pelajaran Bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyah meliputi tema-tema tentang perkenalan, peralatan madrasah, pekerjaan, alamat, keluarga, anggota badan, di rumah, di kebun, di madrasah, di laboratorium, di perpustakaan, di kantin, jam, kegiatan sehari-hari, pekerjaan, rumah, dan rekreasi.

D. Karakteristik Pembelajaran PAI
1. Materi Terbuka
Materi yang ruang lingkup dalam SK-KD nya sangat luas, contoh: Membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

2. Materi Tertutup
Materi yang SK-KD nya sudah pasti (sudah ditentukan), contoh: melafalkan Surat Al-Fatihah ayat 1-5

3. Materi Berjenjang
Materi yang SK-KD nya berkelanjutan (dijumpai dalam jenjang sebelum dan sesudahnya), merupakan materi yang berkelanjutan, Contoh: Menghafal Al-Qur’an surat-surat pendek pilihan

4. Materi Berkelanjutan
Materi yang SK-KDnya sama pada beberapa jenjang (dilihat dari tata urutannya), contoh: Menyebutkan lima dari Asma’ul Husna
5. Materi Terbuka
a. Memerlukan interpretasi dengan memperhatikan kesesuaian dengan kebutuhan atau kondisi peserta didik.
b. Memerlukan kreatifitas guru dalam penyajian pembelajaran.
c. Memungkinkan untuk memilih dari berbagai alternatif yang mungkin dan sesuai dengan kebutuhan atau kondisi peserta didik. Contoh ;
Al Quran:
1) Huruf-Huruf Al Quran
2) Ayat-ayat Al Quran
3) Surat-surat Pendek

Aqidah:
1) Ciptaan Allah
2) Asmaul Husna
3) Sifat Wajib dan Mustahil Allah

Akhlak:
1) Perilaku jujur
2) Perilaku hormat
3) Perilaku hidup sederhana
4) Keteladanan perilaku Rasul masa kanak-kanak

Fiqih:
1) Contoh gerakan salat
2) Bacaan salat
3) Dzikir dan doa setelah salat

6. Materi Tertutup
a. Sudah ditentukan ruang lingkupnya
b. Jika ada pilihan terbatas
c. Memudahkan guru dalam menentukan materi
d. Tidak memerlukan interpretasi
Contoh :
Al Quran:
1) Surat Al Fatihah
2) Surat Al Fiil
3) Surat An Nashr

Aqidah:
1) Enam Rukun iman
2) Kitab-kitab Allah
3) Nama Hari Akhir

Akhlak:
1) Perilaku taubatnya nabi Adam
2) Masa Kelahiran Rasul
3) Kesabaran Nabi Ayub

Fiqih:
1) Rukun Islam
2) Doa sesudah wudlu
3) Lafal adzan dan ikomat

7. Materi Berjenjang
a. Materi sama meskipun tingkatnya berbeda
b. Penekanan kompetensi yang berbeda
c. Disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai
d. Memerlukan pengayaan penguasaan awal dan akhir tujuan
e. Menyesuaikan strategi dalam setiap pencapaian tujuan pada setiap jenjang

Contoh
Al Quran:
Materi Kelas I
1) Al Fatihah
a. Materi kelas VI
2) Al Fatihah
a. Materi kelas II
3) An Nashr
a. Materi Kelas VI
4) An Nashr
Akhlak:

Materi kelas I
Perilaku hormat kepada orang tua dan Guru
Materi kelas II
Perilaku hormat dan santun kepada orang tua dan guru

Fiqih:
Materi Kelas I
Berwudlu
Materi Kelas II
Bewudlu
Materi kelas II
Shalat
Materi Kelas III
Shalat
Materi kelas IV
Shalat

8. Materi Berkelanjutan
Kedalaman antar tingkat materi tidak sama, sehingga sebuah materi lanjutan dari materi-materi yang sebelumnya.
Penyajian kadang tidak berurutan
contoh
Al Quran:
Materi kelas I
Al Fatihah
Materi kelas II
An Nashr
Materi kelas IV
Al Lahab
Materi kelas V
Al Maun
Lanjutan
Aqidah Akhlak:
Materi kelas I
Rukun Iman
Materi Kelas II
Kalimat Syahadat
Materi Kelas IV
Sifat-Sifat Allah
Ahlak:
Materi kelas I
Perilaku Jujur
Materi kelas II
Perilaku Rendah Hati
Materi Kelas V
Keteladanan Perilaku Disiplin Umar bin Khatab

9. Manfaat Pemetaan Materi PAI
a. Mengetahui hubungan antara satu KD dengan KD yang lain
b. Memudahkan pengembangan materi dan penyusunan bahan ajar
c. Memudahkan penetapan model dan strategi pembelajaran yang tepat
d. Memberi arah dalam merancang kegiatan pembelajaran
e. Memudahkan menentukan sumber dan alat pembelajaran pendukung
f. Menjadi acuan penentuan instrumen penilaian

10. Pemetaan Materi PAI
1. Langkah-Langkah Pemetaan Materi
a. Memahami SK-KD
b. Mengelompokkan SK-KD untuk semua aspek
c. Menentukan hubungan dari masing-masing aspek satu sama lain
d. Menentukan strategi pembelajaran yang cocok
e. Merumuskan kegiatan pembelajaran
f. Menentukan peralatan
g. Menentukan jenis dan bentuk penilaian

2. Format Pemetaan Materi


FORMAT PEMETAAN MATERI PAI
KELAS : / SEMESTER :

Satuan Pendidikan :

Materi Materi Terkait dan Keterkaitan nya Stategi Pembelajaran yang Cocok Kegiatan Pembelajaran Alat & Sumber Penilaian




























CONTOH PEMETAAN MATERI PAI
KELAS : / SEMESTER :

Satuan Pendidikan :
Materi Materi Terkait dan Keterkaitan nya Stategi Pembelajaran yang Cocok Kegiatan Pembelajaran Alat & Sumber Penilaian

Al-Qur’an
1. Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang manusia dan tugasnya sebagai khalifah di bumi.
2. Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang keikhlasan dalam beribadah.
3. Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang Demokrasi


(ikhlas, demokrasi, iptek, melindungi duafa


Role playing Membuat naskah drama
Membagi peran
Setting tempat
Skenario
refleksi

Sound
Naskah drama
kostum
pengamatan

4. Memahami ayat-ayat al Qur’an tentang perintah menyantuni kaum Dhu’afa

5. Memahami ayat-ayat al Qur’an tentang perintah menjaga kelestarian lingkungan hidup

6. Memahami ayat-ayat al Qur’an tentang anjuran bertoleransi

7. Memahami ayat-ayat al Qur’an tentang etos kerja

8. Memahami ayat-ayat al Qur’an tentang pengembangan IPTEK


BAB III
PENUTUP
Materi PAI merupakan materi penting dalam menunjang tercapainya tujuan nasional pendidikan di Indonesia. Dengan materi ini diharapkan dapat membentuk manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT, menciptakankan manusia yang berakhlakul karimah melalui pembiaasaan. Berhubung materi ini cukup penting, perlu di persiapkan pembelajarannya dengan baik mulai dari persiapan, pelaksanaan dan evaluasi.
Pemetaan materi ini dimaksudkan untuk membantu merencanakan pembelajaran yang baik dan maksimal agar waktu yang tersedia, dapat digunakan secara maksimal meneransfer pengetahuan, nilai-nilai dan doktrin kegamaan sebagai media terwujudnya insan yang dicita-citakan dalam tujuan pendidikan nasional
Dalam pemetaan materi ini, materi PAI diperdalam sesuai dengan ruang lingkup ( Al-Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, Fiqh dan SKI), karakteristik (materi terbuka, tertutup, berjenjang dan berkelanjutan). Materi-materi ini diidentifikasi menurut temanya, kemudian dikaitkan dengan materi lain, sehingga ditemukan bahwa salah satu materi pada dasarnya tidak berdiri sendiri melainkan berkaitan satu sama lain. Materi yang sudah diidentifikasi, ditentukan model atau metode yang tepat dalam pembelajarannya, ditentukan alat yang diperlukan dalam pembelajaran dan dipilih evaluasi yang dapat mengukur keterampilan sesuai dengan yang diinginkan SK-KD.
Hasil pemetaan materi ini, dijadikan bahan menyusun rencana pembelajaran untuk diimplementasikan dalam pembelajaran dikelas.








DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya (Semarang: Toha Putra, 1989) Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Pendidikan, (Cet. I; Bandung: PT. Al-Ma’rif, 1989
M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Cet. V; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1990)
Peraturan Menteri Agama No. 2 Tahun 2008
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar,Bandung: Pustaka Pelajar, 2009.
Sapari, Drs, Penulisan Butir Soal Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta : Assosiasi Pengawas, 2008
Tadjab, M.A, Ilmu Jiwa Pendidikan (Cet. I; Surabaya: Karya Abditama, 1994), h. 20
Zuhairih, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, (Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 1995)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar